Welcome
Resensi: Guntur - Sukma Halilintar 19 Juni 2005
Satu lagi usaha yang patut dipuji dalam usaha memberikan udara segar bagi dunia komik Indonesia. Komik "Guntur - Sukma Halilintar" karya Dhiar L.A. dan Wisnoe Lee hadir dengan format tebal 65 halaman berwarna.Sebuah karya baru yang sangat patut disimak.
Ide Cerita: Ide cerita Guntur cukup bagus. Seperti yang pernah dimuat di milis Komik Indonesia beberapa waktu yang lalu, tema pendekar manusiawi menjadikan cerita Guntur menarik. Selain asal-usulnya, edisi pertama Guntur ini menceritakan banyak kejadian awal Guntur sebagai superhero yang baru saja datang ke Jakarta. Seperti superhero lainnya, Cakra harus menyembunyikan identitasnya sebagai manusia jagoan dengan berbagai cara. Kostum Guntur pada edisi ini diceritakan masih seadanya, dan ini menjanjikan kepada pembaca akan adanya evolusi pada kostum ini nantinya, sebuah ide yang jarang ditemui pada kebanyakan komik tentang lahirnya superhero baru.
Orisinalitas Guntur, sama seperti orisinalitas tokoh di komik-komik lain, sangatlah relatif. Tidak ada ide baru yang benar-benar baru. Artinya semua ide pastilah berasal dari inspirasi ide lain baik langsung maupun secara tidak langsung. Beberapa hal, seperti misalnya 'fitur' Guntur yang dapat bergerak secepat kilat dan mengeluarkan petir jelas bukanlah hal yang sama sekali baru. Paling tidak sebelumnya kita telah mengenal Gundala (karya Hasmi) dan juga Kapten Halilintar (Jan). Namun jangan buru-buru menilai Guntur sebagai tokoh jiplakan, karena toh secara keseluruhan, guntur memilik kadar orisinalitasnya sendiri.
Gambar dan Pewarnaan: Pewarnaan komik ini boleh dibilang cukup hidup dan tidak datar. Pada beberapa panel tampak pewarnaan yang dikerjakan secara serius dan menghasilkan panel-panel yang bagus, sekalipun demikian ada beberapa bagian semestinya diberikan lebih banyak detil, baik dari segi goresan maupun pewarnaan. Namun secara keseluruhan, gambar dan pewarnaan komik ini jauh di atas rata-rata, meskipun begitu, banyak bagian yang seharusnya bisa jauh lebih baik lagi.
Lettering: Dari sudut lettering, penulisan teks komik ini boleh dibilang cukup rapi, tapi kadang malah terlalu rapi. Terlepas dari tulisan yang fit dalam masing-masing balon teks-nya secara rapi, ada satu hal yang seharusnya bisa ditambahkan untuk lebih menghidupkan tiap dialog, yaitu: intonasi. Apa itu intonasi? Intonasi adalah nada bicara yang tercermin melalui lettering pada tiap-tiap balon teks-nya. Karena komik harus berbicara melalui visual (tanpa audio), maka intonasi yang bisa diwujudkan melalui beberapa cara, misalnya penggunaan font tebal, cetak miring dan ukuran font serta jenisnya. Misalnya ketika seseorang berteriak minta tolong atau berteriak "jambret!", mestinya ukuran teks-nya tidak sama dengan ketika seseorang berbicara. Selain itu intonasi dapat disampaikan juga melalui bentuk balon teks.
Akhir kata, kehadiran komik "Guntur - Sukma Halilintar" sudah selayaknya kita sambut baik, bukan saja untuk usaha menghadirkan tokoh baru dalam khasanah cerita jagoan Indonesia yang sudah lama sepi, namun karena komik ini memang memiliki kualitas yang perlu disimak oleh penggemar komik Indonesia.
Komik "Guntur" bisa diperoleh melalui www.jagoancomic.com.
Artikel ini sudah dikunjungi: 4218 kali.
Artikel sejenis:
[tidak ada artikel sejenis]
| Komik Baru
Bunuh Mandala
Talk About Hape
Zantoro
100 Tokoh yang Mewarnai Jakarta
Jodoh Buat Awang
Benua Ketujuh
Seribu Kapal |